Deretan Startup yang Disebut Sri Mulyani ‘Next Unicorn’ RI

0
106

Pekalongankota.or.id, PEKALONGAN – Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut Ekonomi digital bisa membawa Indonesia berkuasa di Asia. Untuk mencapai hal tersebut pemerintah sudah menyusun visi menjadi ‘Energi Digital Asia’ pada 2020.

Sri Mulyani mengatakan pemerintah telah meluncurkan roadmap ‘Making Indonesia 4.0’. Inisiatif ini terdiri dari 10 strategi dari kualitas sumber daya manusia, iklim investasi, kesiapan infrastruktur, serta standar keberlanjutan.

Ada 5 sektor prioritas dalam pengembangan Industri 4.0 di Indonesia, yaitu makanan dan minuman, otomotif, bahan kimia, elektronik, serta tekstil dan pakaian.

“Komitmen Indonesia dalam mendukung era digital juga tercermin dalam peluncuran Agenda Fintech Bali. Diluncurkan pada Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 di Bali, ada 12 pilar yang dapat diadopsi oleh negara-negara dalam mengembangkan industri fintechnya,” ujar Sri Mulyani.

“Mengingat ekosistem startup yang berkembang di Indonesia, kami percaya bahwa akan ada unicorn baru dalam waktu dekat.”

“Saat ini, kami memiliki sekitar sembilan perusahaan pemula yang terdaftar sebagai Centaur atau startup dengan penilaian lebih dari US$100 juta, termasuk OVO (Fintech), Akulaku (Fintech), dan Blibli (e-commerce),” papar Sri Mulyani.

Ia percaya, perusahaan-perusahaan tersebut memiliki potensi tinggi naik kelas. “Memiliki potensi untuk menjadi Unicorn Indonesia berikutnya.”

“Fenomena ini menunjukkan bahwa melalui ekonomi digital dan model bisnis baru, Indonesia dan beberapa negara berkembang memiliki peluang untuk memiliki perusahaan valuasi tinggi,” tutup Menkeu.

Unicorn adalah startup bervaluasi US$ di atas 1 miliar. Di Indonesia ada tiga startup berstatus unicorn. Yakni, Bukalapak dan Tokopedia (e-commerce) dan Traveloka. Adapun Gojek (ride-hailing) sudah menyandang status decacorn (valuasi di atas US$10 miliar) menurut CB Insights.

Mengutip dari berbagai sumber, ini beberapa nama startup yang disebut Sri Mulyani akan menjadi unicorn di Indonesia:

  1. OVO

OVO merupakan startup mobile payment dan dompet digital yang didirikan PT Visionet Internasional yang terafiliasi dengan Grup Lippo. Saat ini OVO menjadi penantang Gopay dalam pasar sistem pembayaran. OVO cukup agresif dalam mengembangkan bisnis dengan menggandeng startup lainnya seperti bekerja sama dengan Grab, Tokopedia dan Grup Matahari.

Mengutip rilis Lippo, tahun lalu OVO telah mendapatkan suntikan dana dari Tokyo Century sebesar US$120 juta.

  1. Akulaku

Akulaku adalah fintech yang memiliki bisnis di bidang e-commerce, peer-to-peer (P2P) lending, remitansi hingga pembayaran digital. Akulaku didirikan oleh William Li pada 2016 dan sudah beroperasi di Asia Tenggara.

Saat ini sebagian saham Akulaku di miliki oleh Alibaba Group. Akulaku juga baru saja mengumumkan investasi sebesar Rp 500 miliar di Bank Yudha Bhakti.

  1. Blibli

    Blibli adalah startup e-commerce yang berdiri pada 2011 silam. Blibli dimiliki PT Global Digital Niaga yang merupakan anak perusahaan Djarum di bidang digital. Blibli termasuk startup yang tidak agresif kumpulkan dana dari investor menyuntik dana ke startup lain dan akuisisi.

    Blibli telah mengakuisisi Tiket.com, startup pemesanan tiket perjalanan dan hotel serta telah berinvestasi di Gojek.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here