Kota Pekalongan Miliki 31 Konselor HIV/AIDS Bersertifikat

0
249

pekalongankota.or.id, PEKALONGAN – Hingga saat ini Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat telah memiliki 31 orang konselor HIV AIDS yang sudah bersertifikasi. Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes, Dr. Indah Kurniawati,M.Kes., saat menghadiri kegiatan penguatan jejaring konselor HIV/AIDS di Ruang Pertemuan Puskesmas Bendan, Kamis ( 4/7/2019).

Indah mengatakan bahwa konselor tersebut berasal dari tenaga kesehatan di puskesmas, bidan, dokter di rumah sakit, petugas di Rutan dan Lapas serta lainnya.

“Peran para konselor puskesmas dan rumah sakit ini sangat penting dimana mereka menjadi ujung tombak dalam pengendalian kasus HIV/AIDS karena masyarakat yang merasa sakit selalu datang ke layanan kesehatan tersebut yang merupakan titik bertemunya dengan orang yang beresiko terkena HIV/AIDS tersebut,” kata Indah.

Disampaikan Indah, konselor yang bersertifikat tersebut telah sesuai dengan peraturan Kementerian Kesehatan RI dimana dengan memiliki sertifikat dapat membantu memecahkan masalah penderita ODHA.

“Yang sudah terlatih da tersertifikasi ada 31 orang. Para pendamping HIV/AIDS diminta dapat mendekatkan diri kepada masyarakat untuk lebih mempermudah dalam mengubah stigma negatif terhadap HIV/AIDS,” ucap Indah.

Sementara itu, Epidemiologi Kesehatan Madya Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, Edi Purwanto menuturkan keberadaan konselor cukup penting untuk mengendalikan epidemi HIV/AIDS di kabupaten/kota Jawa Tengah

“Para onselor ini membantu memecahkan masalah klien atau penderita. Mereka bertugas memotivasi, mendukung, melakukan pendampingan,dan sebagainya mengetahui klien mengetahui status HIV/AIDS nya dan mengikuti pengobatan,” tutur Edi.

Dijelaskan Edi, seorang konselor harus mampu menempatkan dirinya sebagai orang terdekat dari penderita HIV/AIDS (ODHA). Dengan begitu, ODHA mampu menyampaikan keluhan dan kondisi psikologisnya tanpa mengkhawatirkan kerahasiannya akan bocor.

“Penderita yang tadinya tertutup, orang tersebut bisa berterus terang bahwa yang bersangkutan telah melakukan perilaku beresiko. Semakin banyaknya jam terbang seorang konselor, semakin banyak mengetahui banyak karakteristik klien dan akan lebih bagus, seorang konselor bisa masuk dan menyesuaikan ke dalam kelompok sasaran penderita HIV/AIDS, misal kalau ketemu penderita dari LSL ya harus menyesuaikan penggunaan bahasanya seperti apa,” papar Edi.

Edi berharap konselor perlu mendapatkan pelatihan secara rutin agar pengetahuannya bertambah dan mempunyai teknik berkomunikasi dengan komunitas atau orang yang mengidap HIV/AIDS.

“Di sini peran konselor menjadi penting. Saat ODHA tak berani bicara, dia bisa mencurahkan semuanya ke konselor,” pungkas Edi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here